Direktur teknik PSSI sekaligus pelatih timnas Indonesia Pieter Huistra mengaku mempertimbangkan untuk menangani tim di kawasan Asia jika masih belum ada perkembangan positif terkait konflik sepakbola nasional.
Sanksi suspensi FIFA kepada Indonesia membuat timnas semua level tidak bisa mengikuti kompetisi. Huistra mengaku kini sudah saatnya untuk mencari petualangan, namun tetap di kawasan Asia.
“Ada kemungkinan untuk pergi. Jika ada tawaran yang datang, maka saya akan mempertimbangkannya Saya masih ingin tetap di Asia. Saya suka bekerja di sini, banyak pekerjaan bagus yang harus dilakukan. Saya mengikuti semuanya di negara lain di kawasan ini,” ungkap Huistra kepada FourFourTwo.
“Saya memantau sepakbola Thailand dan Malaysia, serta terus mengikuti perkembangan mereka. Jika ada kemungkinan [pergi], saya akan mempertimbangkannya. Australia juga tidak terlalu jauh dari sini.”
“Jika saya pergi, saya akan pergi dengan rasa penyesalannn. Begitu banyak potensial [di Indonesia]. Tapi saat ini semuanya membuat frustrasi. Indonesia bisa menjadi raksasa.”
Huistra datang ke Indonesia sebagai direktur teknik pada Desember 2014, dan ditunjuk menjadi pelatih timnas senior Mei 2015. Hanya saja, sanksi FIFA membuat persepakbolaan nasional mati suri.
Pria asal Belanda ini mengatakan, sanksi tersebut memberikan dampak buruk yang sangat besar. Dampak itu tidak hanya dirasakan para pemain dan klub, tapi juga program pembinaan.
“Salah satu alasan saya dikontrak adalah untuk memulai program pengembangan pemain muda. Begitu banyak talenta di sini. Tapi, pemain yang bagus bisa tercipta jika lingkungannya tepat, dan Anda harus memulainya dari usia dini, serta membentuk kelompok usia,” kata Huistra.
“Sekarang ini menjadi masalah, tidak ada jenjang bagi pemain muda bertalenta untuk menjadi pemain bagus, karena minimnya struktur. Kami bekerja keras sejak saya dikontrak sepuluh bulan lalu.”
“Sekarang semuanya tertunda. Tidak ada dana, dan mereka yang sudah menginvestasikan, atau melakukan hal yang sama di masa mendatang tentunya berpikir ulang.”
“Kami hanya sedikit mendapat bantuan, bahkan tidak sama sekali dari pemerintah. Kami harus melakukan pendekatan kepada perusahaan swasta. Banyak program bergantung kepada pendanaan dari sponsor.”
“Saat ini, mereka khawatir bila berinvestasi terlalu besar, karena tidak ada yang tahu perkembangan situasi sekarang, dan itu sungguh disayangkan. Sangat banyak inisiatif, tapi kami terpaksa berhenti sekarang.”
Huistra menambahkan, Indonesia membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengejar ketertinggalan jika konflik ini berlangsung berlarut-larut.
“Federasi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak punya pemasukan, tidak ada uang hak siar televisi, tidak ada dana sponsorship, tak ada tim nasional, tak ada liga, dan sungguh sulit untuk membayar gaji. Jika ini terus berlangsung, maka kondisinya makin memburuk. Kredibilitas Indonesia juga akan terpukul di mata dunia,” jelas Huistra.
“Makin lama kita berhenti, makin jauh kita tertinggal. Tak ada seorang pun yang menyadari dampak buruknya bagi sepakbola Indonesia. Jika Anda tidak aktif selama satu tahun, maka Anda membutuhkan waktu dua, atau tiga tahun untuk mengejar ketertinggalan.”
Judi Bola - Pieter Huistra Betah Melatih Di Asia - Posted By :
Bola899
Bola899
No comments:
Post a Comment